22.12.11

kimchi couple

>>>>>>>>>>

photo by : dina agustina suardi
models : ridha ichsani and rian prabana

22.11.11

the rainy season makes me gloomy. I am bored and want to fall in love again. Or, is this temporary feeling because rainy season come every single day and hold me on the bed? this is just unimportant feeling, star. never mind. I just miss you every night because you disappear!

Gendis, di kereta itu

stasiun kereta di malam hari. Gendis melangkah lambat di samping Kevin dengan diam, tanpa bunyi apapun yang ia keluarkan. Ingin sekali Kevin tahu bahwa langkahnya adalah tanda. Langkah ia punya makna. Ia tidak ingin pergi dan tidak melihat Kevin esok pagi. Apa daya, Gendis bukanlah gadis pemberani, ia hanya berharap bumi dan sekitarnya memahami perasaannya kini. Ia harap bumi dapat berkonspirasi kepadanya malam ini.

"Dis, hati-hati ya!" pesan Kevin seraya mengacak rambut Gendis pelan.
Gendis diam saja, ia menunduk lemas. Beberapa detik persiapan, Gendis akhirnya mengangkat wajahnya, mencoba menatap mata teduh yang menemaninya minggu ini. Gendis menarik senyum pelan dan mengangguk tabah.
"Jangan lupa kalau udah sampai, kabarin." pesan Kevin kedua kali.
"Oke!" hanya itu yang mampu Gendis utarakan.

sepuluh detik berlalu dalam diam. Gendis akhirnya berbalik dan menuju kereta yang diam menunggu waktu tiba untuk berjalan. Gendis masuk, tanpa berbalik untuk melambaikan tangan. Baginya hal itu sangat berat.

Gendis terduduk di bangku kereta pesanannya. Gendis sangat gundah dan tidak mau pergi sebenarnya. Ia terdiam di dalam lalu lalang manusia di sekitarnya. Bahkan Gendis tidak berharap Kevin akan menyusulnya ke jendela sebelah dirinya. Ia terlalu takut senyum Kevin yang ia dapatkan jika menoleh akan tertempel lama di otaknya.

Nyatanya Kevin menghampiri jendela itu. Ia memanggil Gendis pelan dan memberikan secarik kertas yang dilipat rapi dengan tempelan gambar-gambar bintang yang digambarnya sendiri. Gendis tersenyum kecil. Kevin lagi-lagi memberinya kenangan manis dengan surat ini. Gendis tak ingin membuka dan membacanya karena bisa saja kata-kata yang Kevin tulis malah menyakiti hatinya.

"Bacanya nanti aja, kalau keretanya udah jalan."
"Memang kamu nulis apa?"
"Aku nulis testimoni, hehe."
Gendis tersenyum, tetapi hatinya seperti tertusuk. Pengharapan tinggi ini, rasanya Gendis ingin sekali membuangnya jauh ke dasar tebing. Kevin, si pemuda baik hati pada siapa saja, tak mungkin jatuh hati padanya.
"Hati-hati ya! Jaga diri dan waspada!" pesan Kevin ketiga kali dengan teriakan yang hampir tak terdengar karena kebisingan kereta yang melaju. Gendis menghela nafas, panjang sekali. Ia memejamkan mata, menyuruhnya untuk tidur segera.

Tiga jam telah berlalu, Gendis masih saja gelisah karena semua kenangan Kevin tergambar jelas di otaknya. Kevin, Kevin, Kevin. Ugh, kenapa aku harus jatuh cinta sekarang, Ya Tuhan? teriak Gendis dalam hati.

secarik kertas itu, Gendis memperhatikan gambar itu senang. Kevin tahu ia sangat suka pada bintang. Namun yang Kevin tidak tahu, Kevinlah bintang itu. Bintang adalah benda ciptaan Tuhan yang indah, namun ia jauh. Gendis tidak pernah bisa menggapainya. itulah Kevin buat Gendis. indah namun pahit.

Gendis tidak sabar juga akhirnya, ia pikir ia sudah siap menerima kenyataan. Biarlah Kevin tetap menjadi yang terbaik di hatinya, walau tanpa balasan. Gendis sudah siap. Ya, ia sudah siap.

Dear Gendis yang manis,

Aku, Kevin, ingin mengatakan pendapatku tentang kamu. Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin bicara tentang ini, tapi Gendis, aku malu. Aku ingin sekali memuji kamu langsung di depanmu. Tetapi, ah, kamu tidak tahu betapa pemalunya aku.
Dis, aku sangat kagum kepadamu. Kamu perempuan yang selalu menghiburku dengan caramu. Bersamamu aku jadi tahu, betapa impianku sangatlah kecil dibanding kamu. Betapa aku begitu dangkal memikirkan kehidupanku. Gendis mengajarkanku sesuatu yang indah, yang sebelumnya tak pernah ada yang membuatku memikirkan arti bahagia selama ini. Kamu, Gendis, yang buat aku tahu, senyum sesederhana yang aku punya dapat membahagiakan hati siapa saja. Haha, kamu kan salah satunya :p
Gendis, aku tahu mungkin aku belumlah siapa-siapa yang dapat membuatmu kagum juga kepadaku. Lagipula, dianggap sebagai seseorang yang penting bagimu aku sudah sangat bahagia. Kamu pernah bilang saat itu, aku adalah pemuda yang dapat mencapai apapun yang aku mau. Kamu merasa, aku berbakat untuk melakukan apapun yang aku tuju. Kamu benar, Gendis, aku akan berusaha menjadi sebaik yang kamu bilang. Kamu tahu kan, sejak saat itu, kamu benar-benar inspirasiku.

Gendis, apakah kamu mau menjadi salah satu pencapaianku? Menjadi pasangan hidup yang
selalu menemaniku?


Kevin.

Gendis terperanga. Ia menangis. lebih tepatnya, ia tersenyum sambil menangis.

6.11.11

how have you been?



those photos are quite old. see those thingy above, realize myself how I did not use my lomo camera for a long time. for my fisheye 2 is going date with someone right there, I still have my blue one in my dorm. oh hello, how have you been? :D

1.11.11

my own video 2 years ago

I am bored and waiting for myself doing thesis. but, suddenly I found my so old made video


compare with this original ads



anything different? which is more hillarious to you? haha x))

ya, awan ...

kamu tahu, awan? aku merindukan saat merebah dan memandang langit penuh denganmu.
merebah tanpa bersalah, memejam tanpa takut kehilangan.
selama itu aku tak pernah menangis karenamu.

kamu sangat baik, awan. kamu selalu memompa semangatku.
disaat aku mencoba dan gagal. bangun lagi dan gagal. bangkit lagi dan gagal.
kamu memberikan pesona yang tiada habisnya. membuatku yakin cahaya tenang itu selalu ada di sana.








ya, awan. aku tahu
dunia ini indah, namun tak pernah mudah.
ya, awan. aku percaya
aku selalu yakin aku bisa mencapai semua yang kuinginkan.
bahkan, aku akan melihatmu jauh lebih dekat dari yang bisa kubayangkan.
ya, awan. baiklah
aku memang selalu percaya dengan diriku
aku percaya lebih dari kemampuanku








awan, nanti lihat ya!
aku bisa.


>>>>>>>>>>>>
photos by : dina agustina suardi

21.10.11

cinta mereka tidak penting ...

.... adegan sangat sedih terlihat di mana sepasang manusia saling merasa. Namun, semua terhalang oleh kepentingan-kepentingan yang memaksa mereka mengerti, cinta mereka tidaklah penting. Cinta mereka hanya naluri, yang lebih baik dirasa sendiri-sendiri.


12.10.11

sore di galeri

suatu sore yang sejuk, di pelataran galeri kecil namun ramai, Gendis diam berdiri memegang gitar ungu-nya sendirian. Ia diam, namun mulutnya komat-kamit tak terbaca. Gendis ternyata berdoa, menguatkan hatinya agar yakin pertunjukkannya akan baik-baik saja. Tidak lama, seorang pemuda menghampirinya. Pemuda dengan kaos putih bergambar analog itu menghampiri dengan senyum. Matanya yang terbungkus kacamata dan poni yang setengah panjang menutupi mata membuat Gendis merasa lebih tenang.
"Kamu sudah siap?"
Gendis mengerling, "Tidak akan pernah, jika kamu tidak memaksa. Oh, apakah kamu tahu bagaimana gugupnya aku? Aku tidak pernah main gitar sebelumnya. Ini pun hanya latihan sebulan. Bagaimana kamu percaya aku bisa menyanyi di depan banyak orang, Vin?"
Pemuda bernama Kevin pun menjawabnya dengan senyum, lalu mendorong punggung Gendis menuju samping panggung tidak ber-level di depan mereka.
"Kevin ..." Gendis menoleh ke arah Kevin di sampingnya. Matanya ketakutan, terselimuti rasa tidak siap.
"Bisa!"

Gendis sudah kepalang berada di panggung. Sendirian dan dipandangi puluhan pasang mata asing yang baru ia lihat. Gendis akhirnya menyerah. Ia duduk dan menyiapkan mic-nya. Berpose dengan gitar ungu dan sengaja memamerkan sepatu hak tinggi andalannya. Ah, Kevin tersenyum puas penuh rasa. Sebelum Gendis memulai, Kevin pun sudah bangga, entah karena apa.

"Selamat sore, selamat datang para pemuda-pemudi sekitar saya. Mungkin kalian tidak tahu siapa individu yang sedang bicara dengan pose seperti ini. Tapi disini, saya hanya berusaha mengabulkan permintaan kawan saya yang telah membelikan gitar ini sebagai hadiah. Hei, bagi yang merasa, tolong dengarkan lagunya. Ini tentangmu, bagiku."

♪♫ I like you when you're smiling
I like you when you're singing
I like you when you look at me and say hello ♪♫

♪♫ I like you when you're driving
I like you when you're calling
I like you when you look at me and say goodbye ♪♫

♪♫ I like you in the morning
I like you in the evening
I like you in the night when you look at the moon ♪♫

♪♫ Everytime I look at you
I always want to tell to you
Cause you are the only one I know
You are my melody
The sweetest thing I've ever seen ♪♫

♪♫ I know this is the right time
To tell you how much I like you
I know it's not so easy to say in front of you
I try to open my mouth
Cause I can't stand much longer to say
I love you ♪ ♫


Selesai. Gendis berdiri seusai menyanyi. Ia turun tanpa melihat Kevin yang membeku di samping panggung sedari tadi. Gendis akhirnya berani melirik ke mata Kevin dan hanya tersenyum simpul. Gendis pergi ke luar, entah apa yang ia rasakan.

"Gendis...."
Gendis kaget luar biasa. Berlebihan. Tidak sewajarnya. Ia sungguh tidak siap Kevin ternyata menghampirinya.
"Tuh kan, bagus. Apa kubilang, kamu berbakat."
Gendis tersenyum, lalu diam.
Suasana pun berbeda. Mereka canggung luar biasa.
"Gendis?"
Gendis menoleh perlahan, di sampingnya memang benar-benar Kevin yang tersipu.

'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan???' teriak Gendis dalam hati.

.............................................................................................

that song is created by Funny Little Dream : My melody ( listen here)
written by dina agustina suardi



19.9.11

haha

ada dia, terdiam membelakangiku
sosok favorit. sosok yang baik
kuingin memeluk. hatiku malah sendiri terbekuk

ada dia, berjalan mendahuluiku
dia mungkin tidak tahu, sedang berpikir apa aku
tak tahu saja aku tersenyum
menatapnya terpaku

ada dia, tersenyum dari jarak terjauh mataku
tak sadar betapa buncah hatiku
lebur. tak tahu bagaimana kembali bersatu

haha, sudah ah
aku malu tahu

26.7.11






gelap atau bukan, mataku tak pernah jelas menangkapmu. tapi, aku sendiri di sini, angin. kadang aku berusaha membuat udara ini terlihat dengan kasatnya, namun adakah sebenarnya yang peduli padaku atas apa adanya kini?
walau bias mentari selalu menghadang setiap pancaran rasa, aku tahu ada yang merasa aku ada. meski entah di mana, meski entah kini dengan siapa. yang aku tahu, aku hanya percaya.

langit, kau sekarang adalah temanku. aku selalu menonggak kepadamu. meminta senyum balik yang kutujukan padamu. langit, aku mohon padamu, jangan lagi kau sembunyikan bintangku.

langit, aku yakin kamu tahu kini sedang apa aku.

tertanda.
cahaya





all photos by dina agustina suardi
written by dina agustina suardi

18.7.11

... and I'll show you how valuable dina agustina suardi can be.

20.6.11


Gendis duduk di kayu tua. Duduk tegak dengan pandangannya yang lurus ke udara. Gendis diam, hanya itu yang bisa ia lakukan. Beberapa saat ia merasa ada yang lain di sekitarnya. Menengoklah ia, dan ternyata benar adanya. Ialah bintang yang selalu tinggal di dalam hatinya. Yang selalu masuk tanpa izin ke dalam mimpinya. Bintang tersenyum manis dan seketika membekukan tubuh Gendis, seperti sudah terpaku kencang dan tak bisa kembali. Gendis mencoba menggerakkan tangannya dan terpejam semaksimalnya.
Berhasil, kali ini kembali kenyataan yang ia lihat di sekelilingnya.

you're a bow to my violin
a right to my wrong
you're music to my silence
a plus to my minus

I'm complexity in your simple smile
I'm everything you're saying yes to

Bintang, ia kini ada dihadapannya. Sibuk membaca buku pelajaran yang akan membuatnya pening 2 jam ujian ke depan. Gendis memperhatikannya dengan gembira. Bintang tak sadar selalu ada mata yang mengawasinya. Gendis pun selalu tahu, Bintang tak akan pernah sadar bahwa ada raga Gendis yang selalu berusaha bersentuhan dengannya.
"Mungkin aku hantu yang selalu transparan buatnya." pikir Gendis.

you're a bow to my violin
a right to my wrong
you're music to my silence
a plus to my minus

I'm complexity in your simple smile
I'm everything you're saying yes to

Gendis kini tak pernah bertemu bintang selama bertahun-tahun lamanya. Selalu Gendis menangis, mengapa rasa ini tak ikut pudar seiring raga Bintang yang tak pernah bisa dipandang.
Gendis pun tahu, Bintang telah bahagia bersama siapa.
Dan Gendis anehnya malah senang melihat Bintangnya telah memiliki yang lain, dan bukan ia.
"Aku juga tidak tahu kenapa bisa bahagia melihat ia memiliki seseorang yang ia cinta. Aku senang, apapun asal Bintang pun begitu juga."
Nyatanya, Gendis selalu merindukan Bintang apa adanya.

you're a bow to my violin
a right to my wrong
you're music to my silence
a plus to my minus

I'm complexity in your simple smile
I'm everything you're saying yes to

Setiap harinya, Gendis memiliki visualiasi indah bersama Bintang disisinya. Walaupun buatnya sungguh menakutkan bisa membayangkan Bintang adalah jodohnya, namun Gendis kini memberanikan diri agar Bintanglah yang menjadi masa depannya. Gendis pun mencari Bintang, mencarinya ke setiap tempat yang memungkinkan. Ia tidak menyerah, walaupun mungkin Bintang tak pernah ditemukannya.
Beruntung, Gendis melihat Bintang yang berubah untuknya. Semakin rupawan dan dewasa. Penjelmaan Bintang dalam mimpinya 5 tahun lalu ternyata tak salah. Gendis tersenyum, lalu terharu melihat Bintang kini tak lagi berupa khayalan dirinya.
Tapi Bintang tidak sendiri.
Tapi Bintang kini sedang menyematkan cincin pada jari manis seseorang.
Tapi Bintang kemudian sedang dipeluk senang.

you're a bow to my violin
a right to my wrong
you're music to my silence
a plus to my minus

I'm complexity in your simple smile
I'm everything you're saying yes to

Raga Gendis yang merebah lemas di ranjang dengan kepala yang tertoleh ke samping kanan. Kosong, matanya tak melihat apapun di depan. Gendis hanya tenggelam dalam angan yang kembali berputar, dimana Bintang kini mulai memudar. Ia pergi, raga yang terhapus bagai pasir yang terbawa angin. Bintang, sudah tidak akan pernah bersinar lagi di hati Gendis.
Air mata tanpa ampun mengalir teratur dari mata Gendis.
Gendis pun menangis, lagi.
"Semoga ini yang terakhir Ya Tuhan! Gendis mohon!" pekiknya dalam hati.

---------------------------------------------------

written by : dina agustina suardi
lyric : A Bow To My Violin - Hollywood Nobody ( download here )

7.6.11

tahu bagaimana rasanya, sekarang

Hari ini kusimpulkan level kekuatanku sudah bertambah, setidaknya walau setengah. Aku kini tahu berjuang itu tidak pernah mudah, apalagi berkeinginan untuk menyerah. Aku tahu sekarang, bahwa menjadi dewasa adalah pencapaian dan harus kujalani dengan banyak garis lintang. Garis yang tidak varian, kawan.

Rose, I'm feeling older
I was as lucky as a four-leaved clover
I tried to be happy it wasn't easy
When I choose my colour it will be razzle dazzle rose

Dewasa kini pilihan. Sebenarnya dalam hati aku tak pernah mau memilih, namun tanpa kutelusuri, tanpa sadar itu juga sebuah pilihan. Maka kenapa tidak kucoba untuk bersikap selayaknya tahun yang selalu maju pesat, meninggalkan orang-orang yang tidak pernah siap.

Sekarang aku tahu rasanya, bagaimana melawan arus keinginan. Aku sekarang belajar menahan, aku sekarang belajar bersenang-senang dengan beban. Aku tahu sekarang, bagaimana rasanya tenggelam.

Aku tahu sekarang, bagaimana rasanya berteman dengan bayangan.

Rose, I'm feeling older
Courage my love it makes me bolder
Expecting softness can lead to foolishness
When I choose my colour it will be razzle dazzle rose




5.6.11

Kamu tahu, bintang? rasanya berusaha untuk tidak menyerah itu menyakitkan. Kamu bisa lihat aku contohnya, memandangi dari bawah sini dengan linangan air mata tanpa suara. Kamu pasti bisa melihat, bintang, bagaimana aku berusaha untuk terus maju sendirian, melawan ego, dan melawan semua keinginan untuk bersenang-senang

Bintang, aku ingin sekali jadi sepertimu disana. Aku ingin tenang dan berkilau. Aku ingin jauh dari bingar.

Bintang, apakah aku orang yang tidak sabaran? Bagaimana agar aku bisa menjadi kamu yang tetap bersinar? Tanpa siapapun, yang kau butuhkan hanya cerahnya langit malam.

Aku merindukanmu
Aku yakin kamu pun tahu






Gendis

Tuhan, aku kenapa? Mengapa aku merasa sangat kesepian? Aku merasa tidak ada yang bisa mengerti perasaanku, siapapun kini yang mungkin melihat kesedihanku.
Tuhan, aku bingung jika ditanya karena aku pun tak tahu jawabannya, aku tak tahu harus bagaimana ketika ada yang memperhatikanku saksama.

Tuhan, mengapa aku meminta pamrih pada setiap manusia yang kukenal? Adakah ketulusan yang benar-benar tak merasa? Ketika aku sangat butuh balasan kebaikan, mengapa aku tak mendapatkan? Aku selalu sepenuh hati berkorban pada setiap yang kusayang, namun di saat aku berbalik membutuhkan, mengapa tak sama keadaan yang kurasakan? Katanya di dunia ini ada karma, kapankah kebaikan itu menjelma?

Tuhan, bolehkah aku meminta sesuatu lagi, bahkan yang tak mungkin akan terjadi? Aku ingin menjadi anak kecil lagi, dimana masalahku hanya pe-er yang susah, atau ingin baju lebaran yang manis, atau tamasya dengan keluarga ke tempat biasa aku lihat di televisi, atau ban sepeda yang kempes, atau menangis karena luka-luka di tubuhku banyak sekali. Bolehkah aku menjadi anak kecil lagi yang senang berlari? Aku ingin jadi anak kecil lagi, ingin sekali.

26.5.11

another sunny day - episode 2



--------------------- ------------ ----------


to be continued

soundtrack : sing in the rain - Funny Little Dream
model : das. , dimas wardhana, and aji mojo

21.5.11

instant trip





me tried play baloon water, and it wasn't fun after all



we bought name character cookies in kandang coklat, d'ranch Lembang





┐('⌣'┐) ┐('⌣'┐) (┌'⌣')┌ (┌'⌣')┌

do you know, that is anne's young brother who named Genius Brilliant behind me. yap, that is his name! and you know what, he doesn't like photographed at all! weird, eh? we all have no idea about his principal , but we succeed to make him in this picture, yeay!
but this candid face was so shit anyway.




better no description about that picture above



go go power dede ^_^

we were trip to : gunung tangkuban perahu, d'ranch, subang, and mc'd simpang (as always!)


9.5.11

for me, this song sounds like

video

"Setiap menghela nafas panjang, aku mendongak ke udara. Tersenyum menyapa keramaian abstrak kota. Lalu terngiang lagu itu, mengalir deras ke sekujur tubuhku. Dan kamu tahu, aku tak pernah tak berhenti berkerling."
--- Gendis.

all photos by : dina agustina suardi
song : sore - etalase

26.4.11

doa, sore, dan, hujan

Gendis berjalan di tengah hujan rintik sore yang sejuk. Ia sendirian, tapi tak apa. Katanya, ia menikmati hari-hari pasca sakit hati. Apa mungkin masih, Gendis saja tidak tahu pasti. Ia hanya menengadah ke atas dan tersenyum pada awan yang samar. Gendis lalu berdoa,

katanya :

"Tuhan, aku tahu mungkin ini terdengar bodoh. Aku kehujanan dan malah senang karenanya. Aku tersenyum dan mulai berprasangka mungkin manusia-manusia sekelilingku menganggapku orang gila. Tapi Tuhan, aku hanya ingin Kau menyampaikan salam rinduku padanya. Semoga ia tidak sedih, semoga ia bahagia. Semoga ia mencapai cita-citanya. Semoga ia bahagia. Eh, itu sudah kuucapkan, ya? Tak apa, aku benar-benar ingin ia bahagia. Amin."

23.4.11

Di mendung sore, lalu ...

Biyan

Hujan untung sudah reda. Kini aku sudah bisa pulang. Tono yang kebetulan membawa motor, mengajakku untuk menemaninya. Aku, senang saja. jalanan yang tidak terlalu ramai karena sehabis hujan, dan basah karena lebatnya, telah menenangkan perjalananku pulang. aku perlu bernafas atas situasi sekolah yang tidak terlalu menyenangkan. Aku harus menerima kenyataan karena tidak akan lagi pergi ke sekolah yang sama, dan tidak akan lagi sering melihat mukanya. Dan yang lebih menyedihkan, sampai saat ini pun aku belum berani berkenalan dengannya.
Macet, Tono pun terus mengeluh. Aku diam dengan mendengarkannya. Kulihat di sekitar untuk memastikan apakah mereka pun merasakan yang sama. Ada di samping, seorang gadis. Tampaknya ia yang paling tak terima. Hei, tunggu. Ia bukannya marah atas apa yang terjadi kini. Ia menangis, sesenggukan. Membawa motornya sembari menghapus air mata. Menetes lagi, dihapus lagi. Menetes lagi, dihapus lagi. Walaupun kaca helm menutup sebagian wajahnya. Aku tahu, matanya sangat basah. Kenapa dengannya? Mataku tak dapat tak memperhatikannya, walau kutahu ia sembunyi. Aku tak peduli.

Ibu Wina

Pasar kini menjemukan. Aku kesal karena tak mendapatkan daging merah kesukaan anak-anak. Sudah kukira mereka akan meronta kesal karena idaman mereka tak berhasil didapatkan. Apa daya, uang pemberian tak pernah cukup, dan aku lelah karena terus berfikir bagaimana mengakalinya. Jika kau tahu langit, aku juga punya keinginan. Dan tahukah bahwa menyebalkan ketika keinginanmu tak akan pernah didapatkan karena keterbatasan. Fuh, aku bertanya kepadamu dengan mata. Tapi, aku terpaku dengan pemandangan belakangku. Motor, seorang gadis, dan menangis. Ada apa dengannya? Mengapa ia harus menangis sambil berkendara? Tahukah bahwa itu berbahaya? Ada apa dengan gadis itu? Kaca mobil belakang angkutan kota ini untung gelap, dan pasanganku di seberang tempat duduk untung tidak memperhatikannya juga. Aku, kasihan. Dan selain aku, tolong jangan ada lagi yang peduli dengan gadis ini, tolong. Tahukah kau apa artinya kasihan?

Gendis

Ya, sebut saja aku aneh. Langit mendung dan udara yang dingin, serta kesendirian dan juga kenyataan tidak indah hari ini, membuatku tak mampu menguasai kondisi. Hatiku sangat perih, seperti ada yang melubangi. Aku menangis pelan, namun lama-lama sesenggukan. Motor ini akan membawaku pulang, tapi aku megaturnya agar lebih lama di jalan. Aku tak mengerti, ada apa dengan orang baik? Apa salahnya menjadi orang baik? Bukannya semua orang ingin mendapatkan yang baik?
Aku tahu, aku tak mengerti karena tak pernah mau mengerti.
Untuk apa harus seperti ini, jika akhirnya berujung kecewa. Aku jadi trauma. Ya, sebut saja aku aneh. Tidak apa-apa, aku sudah biasa.
Ya, kasihan saja kepadaku hari ini, orang-orang. Tatapan matamu semua ikut mengulitiku.




20.4.11

Gendis terduduk di balkon samping rumahnya, bertanya dalam hati pada awan yang melintas lambat di hadapannya. diam saja. diam, namun tetap bertahan merengkuh udara.
Gendis bertanya, mengapa ia sulit mendapatkan cinta?
Sesuatu yang paling indah di dunia. Sesuatu yang dapat membuat semua orang berbahagia.
Gendis bertanya, mengapa ketika kita sudah memilih dengan siapa kita berbagi, malah yang ada, terjadinya perasaan tak yakin dari seseorang yang dia rasa. Adakah yang salah dengan dirinya?
Gendis tidak ingin macam-macam, katanya. Ia hanya ingin merasa dibutuhkan. Ia hanya ingin merasa disayang. Gendis tidak mau menuntut apa-apa, katanya. Gendis hanya ingin merasa bahwa dia nyata adanya.
Gendis lalu berpikir, dan mengenyampingkan hati yang meronta berbicara.
Otaknya lalu berkata, "Buat apa mempertahankan jika memang tidak diinginkan? Kamu telah dewasa, Gendis. Kamu adalah perempuan yang terbiasa menghadapi kenyataan. jadi, biarkanlah dia pergi."

Biarkanlah dia pergi, katanya. Biarkanlah dia pergi.

16.4.11

--------------------------------------- jangan tanya, nanti aku nangis.

1.4.11

unproductive friday







we talk about likes and dislikes. we talk about our interests. we talk about each love life that we have. film music film film . hehe,
and you know what are we?
we are bestfriends.